Terdakwa Kasus Sodomi Jalani Sidang Perdana

redaksi
Istimewa
  • Xnewss.com, Dumai- Sidang perdana kasus sodomi dan pornografi dengan terdakwa Rafi (22) akhirnya di gelar, Kamis (26/11/2020) kemarin di Pengadilan Negeri Dumai dengan agenda pembacaan dakwaan.

  • Sidang tersebut di pimpin Ketua Majelis Hakim Abdul Wahab dengan hakim anggota Alfonsus Nahak dan Rinaldi Tobing. Namun sidang ini di gelar secara tertutup. Sidang akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi. Sementara terdakwa mendengar dakwaan secara virtual dari Polres Dumai

  • Kasi Pidum Kejari Dumai Agung Irawan yang juga Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengatakan sidang perdana tersebut dengan agenda pembacaan dakwaan. "Jadi terdakwa Rafi di dakwa UU Pornografi dan UU ITE dengan ancaman bisa sampai 10 tahun penjara," sebutnya.

  • Ia mengatakan Kasus ini merupakan pelimpahan kasus dari Kejagung RI, pelaku di amankan pada Pertengahan 2020 lalu. "kasus tersebut bermula ketika pelaku berkenalan dengan para korban melalui media sosial dan game online," ujarnya.

  • Dari perkenalan tersebut pelaku melancarkan aksi bejatnya kepada korban yang diketahui merupakan anak laki-laki masih di bawah umur, ada empat korban, dua korban di Dumai dan dua di luar Kota Dumai. "Tapi kami yakin pasti banyak korban lainnya, karena di lihat dari konten video porno totalnya ada sekitar 403 video porno yang di rekam terdakwa," terangnya.

  • Ia mengatakan aksi tersebut dilakukan pelaku sudah sejak 2019 lalu dan tidak hanya melakukan pencabulan atau sodomi terhadap korban pelaku juga merekam dan memperjual belikan hasil rekaman tersebut. "Jadi selain melakukan sodomi terhadap korban, pelaku juga merekam aksi tersebut tanpa diketahui korban," terangnya.

  • Pelaku juga melancarkan aksi bejatnya kepada korban lainnya melalui Video call. Pelaku merayu korban untuk melakukan onani dan lagi-lagi tanpa sepengetahuan korban pelaku merekam. "Pelaku juga kemudian menjual video hasil rekaman tersebut melalui grup WhatsApp dan Telegram, bahkan ada yang di jual sampai ke luar negeri seperti Vietnam dan Filipina," sebutnya.

  • Agung mengatakan hasil rekaman tersebut di jual pelaku dengan beberapa paket ada paket Rp20 ribu, paket Rp50 ribu dan paket Rp100 ribu. "Jadi masing-masing paket berbeda banyak video yang berkonten porno, berdasarkan pengakuan pelaku ada yang membayar dengan pulsa dan dengan cara transfer uang," tutupnya. (Red)